Kamis, 21 Oktober 2010

Mencuci Tangan Steril

PENDAHULUAN
            Tanggung jawab penting perawat adalah mencegah penyebaran infeksi di rumah sakit. Banyak orang di rumah sakit membawa infeksi. Pasien dapat terinfeksi oleh kuman (mikroorganisme) ini. Mikroorganisme dibawa oleh staf yang tidak mencuci tangan mereka dengan baik atau yang seragamnya terkontaminasi, oleh debu atau droplet udara yang membawa infeksi, oleh pengunjung yang membawa penyakit, oleh pasien yang menderita penyakit tertentu, atau melalui material atau alat yang tidak steril. Karena pasien telah sakit atau baru mengalami pembedahan, pasien sangat mudah terinfeksi. Pencegahan penyebaran infeksi sangat penting di rumah sakit.
            Cara paling mudah untuk mencegah penyebaran infeksi adalah membunuh mirk­oorganisme ketika mereka ada di tangan, alat dan perabot, seperti, tempat tidur pasien. Untuk mencegah penyebaran infeksi di rumah sakit, perawat dan pemberi pera-watan kesehatan yang lain mengikuti praktik medis dan asepsis bedah. Teknik bersih (asepsis medis) mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada dan mencegahnya masuk ke pasien. Teknik pembedahan (asepsis bedah) mencakup mempertahankan objek dan area yang bebas mikroorganisme untuk meyakinkan bahwa prosedur pembedahan steril.
            Berikut ini dijabarkan tentang hal-hal penting tentang mencuci tangan steril, sterilisasi alat medis serta beberapa larutan desinfektan.







CUCI TANGAN STERIL
Pengertian
Mencuci tangan secara steril (suci hama) khususnya bila akan melakukan tindakan steril.
Tujuan
-          Mencegah infeksi silang
-          Membebaskan kuman dan mencegah kontaminasi tangan
Peralatan
-          Wastafel/air mengalir
-          Sabun biasa/antiseptik
-          Sikat lembut DTT
-          Spon
-          Handuk steril/lab bersih dan kering
-          Watafel/air mengalir
Prosedur kerja
-          Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
-          Lepaskan cincin, jam tangan dan gelang
-          Basahi kedua tangan dengan menggunakan air mengalir sampai siku, gunakan sabun kearah lengan bawah, lakukan hal yang sama pada sebelah tangan.
-          Bersihkan kuku dengan pembersih kuku atau sikat lembut kearah luar, kemudian bersihkan jari hingga siku dengan gerakan sirkular dengan spon. Mengulangi hal yang sama pada lengan yang lain. Lakukan selama minimal 2 menit.
-          Membilas tangan dan lengan secara terpisah dengan air mengalir, setelah bersih tahan kedua tangan mengarah ketas sebatas siku. Jangan biarkan air bilasan mengalir ke area bersih.
-          Menggosok seluruh permukaan kedua belah tangan, jari dan lengan bawah dengan antiseptik minimal selama 2 menit.
-          Membilas setiap tangan dan lengan secara terpisah dengan air mengalir, setelah bersih tangan diarahkan keatas sebatas siku. Jangan biarkan air bilasan mengalir ke area tangan.
-          Menegakkan kedua tangan kearah atas dan jauhkan dari badan, jangan sentuh permukaan atau benda apapun.
-          Mengeringkan tangan menggunakan handuk steril atau diangin-anginkan. Keringkan tangan mulai dari ujung jari sampai dengan siku. Untuk tangan yang berbeda gunakan sisi handuk yang berbeda.

TEKNIK MENCUCI TANGAN STERIL
1.      Memilih sarana persiapan antiseptik: glukonat Chlorhexidine diikuti oleh sebuah iodophor bisa menjadi pilihan( Wilmore DW (ed), 2004 ), ( E Larson, 1988 ).
2.      Sebelum menerapkan solusi alkohol, pra-cuci tangan dan lengan dengan sabun biasa, dan biarkan tangan dan lengan benar-benar kering.
3.      Pedoman Standar merekomendasikan juga merupakan scrub awal 5 menit dengan menggunakan sikat untuk menghilangkan bakteri yang berada di lipatan kulit di sekitar kuku (Wilmore DW (ed), 2004).
4.      Jari-jari dan tangan diperlakukan sebagai memiliki empat pesawat dan masing-masing harus digosok berurutan dari ujung jari ke daerah tepat di bawah siku, menjaga tangan ditinggikan untuk memungkinkan untuk mengalirkan air dari jari-jari dan arus bawah lengan bawah.
5.      Meskipun durasi yang tepat dari scrub tangan masih diperdebatkan, bukti menunjukkan bahwa scrub 120 detik sudah cukup, dengan ketentuan bahwa pada awalnya sikat yang digunakan.
6.      Bila menggunakan alkohol berbasis persiapan, ikuti instruksi pabrikan, misalnya menggunakan sebagian 5 ml 4% chlorhexidine glukonat selama 2 untuk menggosok 2,5 menit, menggosok antiseptik pada kulit. Allow hands and forearms to dry thoroughly before donning sterile gloves ( Boyce JM, Pittet D, 2002 ) . Biarkan tangan dan lengan-benar kering sebelum mengenakan sarung tangan steril ( Boyce JM, Pittet D, 2002 ).





 Cuci Tangan Bedah dengan Sikat
                                                    










Aplikasi dari Antiseptik Berbasis Alkohol
                                 
 

                           
                

   
 












DISINFEKTAN
Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian.
Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari staf medis yang ada di RS dan juga membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Perlu diperhatikan bahwa desinfektan harus digunakan secara tepat. Penggunaan secara salah selain berbahaya juga akan memboroskan uang.
Macam-macam desinfektan yang digunakan:
1.      Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi untuk mendesinfeksi permukaan, namun ada tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
2.      Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
3.      Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
4.      Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
5.      Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
6.      Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).

STERILISASI ALAT MEDIS
Jenis peralatan yang dapat disterilkan :
1.      Peralatan yang terbuat dari logam, misalnya pinset, gunting, speculum dan lain-lain.
2.      Peralatan yang terbuat dari kaca, misalnya semprit (spuit), tabung kimia dan lain-lain.
3.      Peralatan yang terbuat dari karet, misalnya, kateter, sarung tangan, pipa penduga lambung, drain dan lain-lain.
4.      Peralatan yang terbuat dari ebonit, misalnya kanule rectum, kanule trachea dan lain-lain.
5.      Peralatan yang terbuat dari email, misalnya bengkok (nierbekken), baskom dan lain-lain.
6.      Peralatan yang terbuat dari porselin, misalnya mangkok, cangkir, piring dan lain-lain.
7.      Peralatan yang terbuat dari plastik, misalnya selang infus dan lain-lain.
8.      Peralatan yang terbuat dari tenunan, misalnya kain kasa, tampon, doek operasi, baju, sprei, sarung bantal dan lain-lain.
Pelaksanaan:
1.    Sterilisasi dengan cara rebus
     Mensterikan peralatan dengan cara merebus didalam air sampai mendidih (1000C) dan ditunggu antara 15 sampai 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan karet. Perebusan adalah metode yang paling umum digunakan dalam sterilisasi instrumen. Spora musnah dengan perebusan dalam air mendidih selama 5 menit. Penambahan sodium bikarbonat menambah efektifitas perebusan, namun dapat menimbulkan deposit material pada instrumen dan pengikisan pada insturmen yang terbuat alumunium. Instrumen tajam akan tumpul dengan perebusan berkali-kali. Perebusan juga dapat dilakukan terhadap sarung tangan karet, kateter dan syringe. 
2.    Sterilisasi dengan cara stoom
Mensterikan peralatan dengan uap panas didalam autoclave dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat-obatan dan lain-lain. Uap jenuh dengan tekanan (saturated steam under pressure) merupakan metode yang direkomendasikan. Autoclave merupakan salah satu alat yang menghasilkan uap jenuh yang berperan dalam proses sterilisasi. Sterilisasi dilakukan selama 20-30 menit pada suhu 121 °C (250 °F) dengan tekanan 15-30 psi (pounds per square inch) setelah mencapai kondisi yang steril. Spora dapat dimusnahkan pada suhu 273 °F dalam waktu 2 menit. Sterilisasi dengan cara ini dapat menimbulkan karat pada instrumen. Instrumen lebih baik dibungkus dalam keadaan kering, bebas lemak dan kotoran sebelum disterilisasi dengan alat ini. Jika alat akan disimpan, instrumen harus dibungkus dengan material pembungkus yang sesuai agar kondisi steril selalu terjaga. Setelah selesai, alat dikeluarkan dari sterilisator dan dikeringkan untuk mencegah sisa kelembaban saat penyimpanan.
3.    Sterilisasi dengan cara panas kering
Mensterikan peralatan dengan oven dengan uap panas tinggi. Misalnya peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca dan obat tertentu. Sterilisasi dengan uap panas dan bahan kimia, menghasilkan uap tidak jenuh pada suhu 132 °C (270 °F) dengan mencampur bahan kimia dengan air dalam jumlah sangat sedikit selama 20 sampai 30 menit. Sterilisasi jenis ini tidak menimbulkan korosi/karat pada instrumen yang mudah berkarat. Beberapa jenis sterilisasi ini menghasilkan gas yang berbahaya, sehingga diperlukan ventilasi yang memadai. Sisa zat kimia dari sterilsator diklasifikasikan sebagai hazardous waste (limbah berbahaya).
4.    Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan kimia
Mensterikan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kena panas. Misalnya sarung tangan, kateter, dan lain-lain. Sterilisasi kimia terkadang tidak dapat membunuh spora dan virus walau terekspos dalam waktu yang lama. Permukaannya benda yang akan disterilkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Sterlisasi kimia atau disinfektan ini harus berkontak pada waktu tertentu (contact time) untuk mencapai sterilisasi yang baik.
5.    Sterilisasi dengan radiasi
     Radiasi, dapat dilakukan dengan sinar infra merah, diberikan terhadap materi yang tidak dapat disterilkan dengan panas atau zat kimia. Energi radiasi ini dapat membunuh mikroorganisme.
6.    Sterilisasi dengan gas ethylene oxide (EO)
     Gas ethylene oxide (EO) merupakan salah satu metode sterilisasi terhadap benda yang mudah terpengaruh panas dan kelembaban. EO mempunyai sifat toksik, mudah terbakar, dan bisa meledak, sehingga harus digunakan dengan hati-hati. Benda yang telah disterilkan dengan EO harus diangin-anginkan.
7.    Dry heat sterilisator
     Dry heat sterilisator, dapat digunakan terhadap bubuk, bur, tang, dan instrumen tajam. Sterilsasi ini tidak menimbulkan korosi. Kemasan bahan tidak boleh menghalangi penetrasi panas.











PENUTUP
Perlu kita ketahui bahwa cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan.
Semoga paper ini dapat berguna bagi para pembaca khususnya mahasiswa keperawatan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan praktik lapangan.



DAFTAR PUSTAKA
JNPK_KR. 2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Monica Ester. 2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Anonim. 2008. Sterilisasi. Google. Jakarta. Dalam http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/18/sterilisasi/. Diakses pada 3 Oktober 2010 pkl 13.28 WITA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar