Rabu, 15 Desember 2010

Antiseptik Sumber Ayu Daun Sabun Sirih

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Telah diketahui bahwa mikroba ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, adapun mikroba yang merugikan dapat disingkirkan, dihambat dengan atau dibunuh menggunakan bahan kimia, pertumbuhan bakteri dapat dihambat oleh faktor-faktor lain yaitu oleh sinar matahari, logam suhu, dll. Berbagai jenis bahan kimia yang dibuat secara sintetik telah banyak dimanfaatkan orang untuk menyembuhka luka dan telah diuji khasiatnya, zat yang demikian disebut dengan zat antiseptic (Utami,2004). Selain itu antiseptic juga dapat dimanfaatkan untuk digunakan di daerah kewanitaan.
Berbagai macam produk pembersih wanita banyak terdapat di pasaran saat ini. Wanita mempergunakan produk ini dengan berbagai tujuan. Ada yang sekedar ingin membuat vagina fresh dan wangi (hemmm…) atau membersihkan vagina dari keputihan, gatal-gatal serta sebagai pembersih pada saat menstruasi.
Zat yang terkandung didalamnya berbeda-beda. Ada yang berasal dari bahan alami (sirih), dari produk susu (mengandung laktat) dan bahan obat seperti bethadine douche. Secara umum kesemua bahan yang di pakai bersifat antiseptik (dapat membunuh kuman).
Pada umumnya wanita harus merawat bagian tubuh yang paling sensitif yaitu daerah vagina. Apa lagi jika anda tidak merawatnya dan mengalami keputihan. Jika pada vagina anda mengeluarkan cairan berwarna bening anda tidak perlu panik.
Asal tidak berbau dan tidak berwarna, cairan itu sangat baik karena berfungsi sebagai perlindungan alami yang mengurangi gesekan dinding vagina pada saat kita berjalan. Tetapi jika cairan yang dikeluarkan berlebih, perubahan warna, berbau dan terasa gatal itu sangat bahaya.


Cairan ini terjadi karena gangguan hormonal yang memicu kuman penyakit (pathogen) dan menyebabkan infeksi. Cairan ini berwarna kekuningan hingga kehijauan, jumlah berlebih, kental, lengket dan berbau tidak sedap seperti bau busuk. Cairan ini akan menyebabkan vagina terasa sangat gatal atau panas bahkan sampai menimbulkan luka di daerah mulut vagina.
Jika itu yang terjadi pada anda, sebaiknya konsultasikan pada dokter kandungan. Karena jika anda membiarkannya dan tidak di obati secara tuntas, kemungkinan terjadinya mandul sangat besar. Kuman mudah menyusup dan menyebabkan infeksi pada rongga rahim sel telur. Mengakibatkan pelengketan dalam indung telur karena sperma sulit bertemu dengan sel telur yang akhirnya sulit memiliki keturunan.

B.  Tujuan penulisan
1.    Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi penggunaan cairan antiseptic pada daerah kewanitaan, apakah aman digunakan atau tidak.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui pemakaian antiseptic yang benar,
b.    Untuk mencegah masalah kewanitaan dengan penggunaan antiseptic,
c.    Untuk mempelajari proses asuhan keperawatan yang berhubungan dengan penggunaan antiseptic pada penyakit vulvovaginitis.

C.  Manfaat penulisan
1.    Mahasiswa dapat mengetahui kegunaan dari pada cairan antiseptic untuk daerah kewanitaan,
2.    Mahasiswa dapat mengetahui bagaiman cara penggunaan antiseptic khususnya di daerah kewanitaan,
3.    Mahasiswa dapat mengetahui masalah-masalah yang dapat ditimbulkan dari daerah kewanitaan.
4.    Mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan mengenai penyakit vulvovaginitis.





BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Antiseptik
Antiseptik berasl dari bahasa Yunani yang secara singkat berarti kuman. Senyawa itu digunakan pada jaringan hidup atau kulit untuk mengurangi kemungkinan infeksi atau berkembangnya kuman. Harus dibedakan antara antiseptik dengan antibiotik yang berperan untuk membunuh kuman di dalam tubuh dan desinfektan, yaitu senyawa yang membunuh kuman dari benda mati. Beberapa jenis antibiotik ada yang berperan membunuh bakteri, ada juga yang hanya menghambat pertumbuhan bakteri.
Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk hidup. Secara umum, antiseptik berbeda dengan obat-obatan maupun disinfektan.
Antiseptik adalah larutan antimikroba yang digunakan untuk mencegah infeksi, sepsis, dan putrefaksi. Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan, yaitu antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Beberapa antiseptik merupakan germisida, yaitu mampu membunuh mikroba, dan ada pula yang hanya mencegah atau menunda pertumbuhan mikroba tersebut. Antibakterial adalah antiseptik hanya dapat dipakai melawan bakteri (Anonymous,2006).


B.  Jenis-Jenis Antiseptik Yang Dapat Digunakan Di Daerah Kewanitaan
1.    Sumber Ayu Sabun Daun Sirih
Komposisi  sumber ayu sabun daun sirih :
a.    Ekstrak Daun Sirih
b.    ( Piple Bettle Ekstract) 5% ,
c.    Triclosan 0.15% ,
d.   Sodium Lauryl Sulfate,
e.    PEG-40 Hydrogenated
f.     Castor Oil,
g.    Fragrance, Wate


2.    Sabun Sirih V Bali Alus
Mengandung antiseptik 5 kali lebih kuat dari pada peha nol biasa. Berkhasiat mengatasi gatal,bau tak sedap dan mencegah kuman
Komposisi:
Akar pinang,Extrak sirih,Daun intaran,Aquades,Extrac jeruk nipis,dan Extrak lerak.
1.    Sabun Sirih Vagina Cair Bali Alus
mengandung ekstrak sirih merah alami, daun intaran plus bahan-bahan herbal yang mengandung antiseptik lima kali lebih kuat dari sabun biasa yang berfungsi untuk membersihkan dan merawat daerah intim.
size: 100 ml






2.    Sabun Sirih Vagina Bali Alus
sabun transparan dengan bintik-bintik putih yang mengandung Phenol dengan antiseptik lima kali lebih kuat dari sabun biasa, berkhasiat untuk mengatasi gatal, bau tidak sedap, dan baik untuk merawat daerah intim.
varian: Lavender, Cempaka, Jasmine, Green Tea, Coffee, Franginpani, Sirih.
size: 60 gr
3.    Sabun Sirih Rempah
Yang Warna HIJAU      : tidak mengandung Rempah
Yang Warna COKLAT : mengandung Rempah
Mengandung :
Rempah2, Extract Sirih, Extract Aloe Vera, Olive Oil dsb
Digunakan khusus untuk daerah VAGINA/Organ Kewanitaan
Berfungsi :
- Menghilangkan gatal2
- Membunuh kuman/jamur
- Menyembuhkan keputihan
- Menyehatkan Vagina
- Mengharumkan Vagina
- Mempererat Hubungan Suami Ister
- dsb
Isi 60 bh/dos @ 50 gram
4.    Crystal-X
Crystal-X diramu dari tumbuhan dan bahan organik yang mengandung Sulfur, Antiseptik, Minyak Vinieill. Bahan-bahan tersebut dipadatkan sehingga dapat digunakan untuk membersihkan alat reproduksi wanita hingga kedalam. sehingga memberikan manfaat yang lebih besar daripada hanya sekedar membersihkan bagian luarnya saja.
Crystal-X memiliki panjang 6 cm dengan diameter 1 cm dengan permukaan yang halus sehingga nyaman dan aman untuk digunakan.
Untuk pemakaian biasa ( 3 hari sekali ), Crystal-X dapat digunakan selama 2-3 bulan. karena kandungan bahan organiknya akan memberikan nutrisi kepada dinding selaput vagina.
Cukup basahi Natural Crystal X, masukkan ujungnya ke bagian kewanitaan anda, putar putar selama 10 kali.
Lakukan setiap kali anda mandi dan sebelum serta sesudah berhubungan intim.
5.    Prolin Feminime Wash
Pembersih yang lembut untuk daerah intim anda. Dibuat secara khusus memenuhi kebutuhan wanita akan pembersih khusus daerah intim
Tidak mengandung sabun, formula pembersihnya yang lembut dan alami menyegarkan dan menghilangkan bau yang tidak sedap pada daerah kewanitaan.
Memiliki PH yang seimbang (PH=3.5) melindungi dan aman bagi bakteri yang menguntungkan dan mencegah iritasi.
Faktor pelembab alaminya melembabkan dan menjaga daerah intim Anda agar tidak kering.
Dengan ekstrak tumbuh-tumbuhan yang menyejukkan dan menyingirkan perasaan tidak nyaman.
6.    Valenno sabun cair sirih Ingredient:
piper Batle Extract,Triclosan,cocamidopropyl betain,citric Acid, perfume, PEG-40 Hydrogenated Castol oil, Methyl cloroisothiazolinone Methyl Isothiazolinone, Water..
Resik-vaqua,sodium laureth sulfate, cocamida DEA, Cocamidopropyl betaine, piper bettle extract, pEG- 150 distrdarate, propylene glycok, perfum, phenoxyethanok,ethanol, lactic acid, triclosan,areca catechu extract,menthok, sodium chloride
PT KINOCARE ERA KOSMETINDO SUKAbumi- indo
7.    Sabun Keset
piper bettle extract 95.75%, triclosan 0,15, perfume, lactic acid.
Pt.unza vitalis jakarta-indonesia.
8.    Herborist Daun Sirih
floral bouquet
water, piper betle ,leaf extrct,sodium lauryl sulfate, alcohol, areca, catechu linn, uncaria gambir, kaempfreria galanga, stelechocarpus burahol, punica granatum, triclosanh perfum, citric acid, benzil alcohol, methylchloro, isnthiazolinone, methylisothiazolinone
9.        Albothyl
Produk                      : ALBOTHYL LAIN-LAIN 360 MG/gram Botol plastik @ 100 ml
Nomor registrasi       : DKL8121600341A1
Bentuk Sediaan        :LAIN-LAIN 360 MG/gram
Kemasan                   : Botol plastik @ 100 ml
Komposisi                : POLICRESULEN
Klasifikasi                : Obat GENITO URINARY SYSTEM AND SEX
HORMONES          : Gynecological antiinfectives and antiseptics
Produsen                  : PHAROS INDONESIA
10.     Betadine Feminine 60 ml
Indikasi:
Pembersih khusus kewanitaan, efektif mencegah dan mengatasi keputihan.
Kontra Indikasi:
N/A
Deskripsi:
Mengandung bahan aktif povidone iodine 10% efektif membunuh kuman dan jamur penyebab keputihan, gatal-gatal, bau tidak sedap pada daerah kewanitaan, menjaga kebersihan organ intim wanita.
Jenis: Fls
Produsen: PT Mahakam Beta Farma

Antiseptik yang digunakan dalam hal ini yaitu Sumber Ayu Sabun Daun Sirih. Sabun daun sirih tersebut digunakan di daearah kewanitaan



A.  Masalah Daerah Kewanitaan
1.    Masalah Keputihan
Daerah kewanitaan merupakan organ tubuh yang paling sensitif. Pada dasarnya organ kewanitaan memiliki kemampuan untuk membersihkan daerah tersebut sendiri. Adanya flora normal di dalamnya akan melindungi daerah tersebut dari berbagai kotoran, bakteri, dan kuman yang masuk. Jadi sebenarnya tidak diperlukan bahan khusus untuk membersihkannya, cukup dengan air bersih. Namun, untuk kasus tertentu, seperti gatal-gatal, keputihan, ataupun dalam masa menstruasi, produk pembersih dapat digunakan. Karena biasanya sabun/pembersih tersebut mengandung antiseptik yang berfungsi untuk membunuh kuman.
Produk pembersih daerah kewanitaan hendaknya dipilih yang memiliki pH kurang lebih sama dengan pH organ intim wanita yakni sekitar 3,5- 4,5. Pada pH tersebut, kuman-kuman tidak dapat tumbuh dan berkembang biak. Juga perlu diperhatikan bahwa produk pembersih ini tidak dianjurkan untuk digunakan setiap hari. Adanya kandungan antiseptik di dalamnya dikhawatirkan akan mengganggu flora normal organ intim wanita, sehingga justru tidak dapat berfungsi untuk melindungi.
a.    Keputihan normal
Cirri-ciri keputihan normal yaitu :
1)   Jernih
2)   Tidak berbau
3)   Tidak gatal
b.    Keputihan tidak normal
Ciri-ciri keputihan tidak normal yaitu :
1)   PH menjadi lebih basah,
2)   Warna kuning kehijauan seperti nanah,
3)   Perubahan konsistensi seperti dari lendir menjadi lebih padat, bergumpal atau seperti kepala susu,
4)   Bau mencolok/tercium seperti bau apek atau amis,
5)   Rasa gatal,
6)   Terasa nyeri saat buang air kecil.


Adapun 10 Mitos mengeani sabun daun sirih tersebut adalah:
Mitos pertama, takut menyebabkan vagina menjadi kering. Padahal kekeringan pada vagina bukan disebabkan dari penggunaan daun sirih jika digunakan sesuai aturan dan digunakan pada bagian luar vagina. Sebagai informasi, keringnya vagina disebabkan dua faktor, yaitu fisik atau psikis, atau kombinasi keduanya. Dari sisi faktor fisik, kekeringan vagina terjadi saat tubuh perempuan tidak bekerja sebagaimana seharusnya, atau rusak karena bahan kimia. Sedangkan dari faktor psikis, vagina yang kering berlebihan bisa timbul karena tekanan mental seperti stres atau depresi.
Mitos kedua yakni takut menyebabkan kanker rahim. Padahal penggunaan daun sirih tidak akan menyebabkan kanker rahim. Kanker dapat terjadi lebih karena gaya hidup, hormon, dan kurang bersihnya daerah kewanitaan sehingga menimbulkan jamur yang menyebabkan penyakit. Justru dengan menggunakan daun sirih akan membantu membersihkan dan mencegah timbulnya jamur.
Mitos ketiga takut karena ada kandungan sabun di daun sirih. Sebagai sebuah produk yang memimpin pasar dikategorinya, Sabun Daun Sirih Sumber Ayu sabun sirih telah teruji secara klinis, mengandung pH balance 3.5 yang tidak akan menyebabkan iritasi. Sehingga kandungan sabun di dalamnya tidak akan mempengaruhi kondisi vagina.
Mitos keempat yakni takut menyebabkan kemandulan. Sabun Daun Sirih Sumber Ayu tidak menyebabkan kemandulan karena telah teruji secara klinis dan dermatologi.
Mitos kelima, takut karena mengandung zat kimia dan pengawet yang dapat menyebabkan iritasi. Adapun Sumber Ayu Sabun Daun Sirih terbuat dari bahan alami pilihan. Selain itu produk ini juga tidak menggunakan bahan kimia serta pengawet sehingga aman untuk digunakan.
Mitos keenam yaitu takut hilang keperawanan. Hal ini jelas salah, sebab daun sirih tidak menyebabkan hilangnya keperawanan. Keperawanan hanya akan hilang jika telah melakukan hubungan intim atau hubungan seksual.
Mitos ketujuh, yakni lebih nyaman pakai sabun biasa. Padahal, sabun biasa lebih berbahaya, karena sabun biasa bersifat pH Basa yang akan merubah pH vagina menjadi >7 (menjadi Basa) yang dapat menyebabkan iritasi pada daerah kewanitaan selain itu suasana Basa di vagina akan menyebabkan flora normal vagina berkurang sehingga bakteri jahat akan mudah berkembang biak. Sementara Sabun Daun Sirih Sumber Ayu mengandung pH balance 3.5.
Mitos kedelapan yakni takut vagina terinfeksi. Vagina tidak akan terinfeksi selama penggunaan sabun sirih sesuai aturan pakai. Yakni menggunakan di saat menstruasi, keputihan, gatal-gatal dan jika tidak terdapat luka di vagina.
Mitos kesembilan, tidak tahu kandungan daun sirih. Daun sirih mengandung zat antiseptik, antioksidan dan anti jamur. Jenis tumbuhan ini biasa digunakan untuk mengatasi gangguan keputihan dan atau lendir yang berlebihan, serta gatal-gatal dan bau tak sedap.
Mitos Terakhir, yakni cara pakai rumit. Untuk diketahui, penggunaan sabun sirih hanya untuk bagian luar vagina. Proses usapan pada kulit vagina dianjurkan dari arah depan ke belakang, lalu setelah dibasuh sampai bersih segera dikeringkan dengan handuk lembut.
Sepuluh mitos inilah yang dicoba dilawan dan diluruskan Sumber Ayu Sabun Daun Sirih. Karena itu mereka mengeluarkan varian produk yang akan membantu para wanita baik ibu – ibu maupun remaja untuk menjaga dan melindungi daerah kewanitaan mereka.


2.    Masalah vulvovaginitis
Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina.
Penyebabnya bisa berupa :
a.    Infeksi
b.    Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus)
c.    Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotic secara berlebihan,
d.   Protozoa (misalnya Trichomonas vaginalis)
e.    Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes).
f.     Zat atau benda yang bersifat iritatif
g.    Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons
h.    Sabun cuci dan pelembut pakaian
i.      Deodoran
j.      Zat di dalam air mandi
k.    Pembilas vagina
l.      Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat
m.  Tinja
n.    Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya
o.    Terapi penyinaran
p.    Obat-obatan
q.    Perubahan hormonal.


B.  Perawatan Organ Intim
Tips Merawat Daerah Organ Intim
Bagi wanita, perawatan daerah kewanitaan menjadi amat penting karena berkaitan erat dengan sirkulasi menstruasi, keputihan, hubungan seks dan kehamilan. Ini semua dapat menggangu keseimbangan asam dan basa (pH) dia area kewanitaan. Perubahan dari keseimbangan pH ini bisa disebabkan oleh penularan infeksi kuman, pengunaan sabun atau faktor fisik, ataupun masalah kebersihan diri. Sering kali pada saat menstruasi seorang wanita menjadi tidak nyaman dan mengalami gatal-gatal serta mengeluarkan lendir keputihan yang tidak normal. Untuk membersihkan daerah kewanitaan secara efektif, SUMBER AYU mempunyai produk pembersih kewanitaan Daun Sirih yang sangat efektif untuk membersihkan daerah kewanitaan, terbuat dari bahan alami dengan kandungan pH seimbang 3,5. Pembersih kewanitaan SUMBER AYU Daun Sirih ini terbuat dari daun sirih alami yang telah dipakai sejak dari jaman nenek moyang bangsa Indonesia sebagai bahan antiseptic, tidak mengandung bahan kimia yang diproses melalui teknologi terkini dan telah dilakukan UJI KLINIS untuk memastikan kualitasnya sehingga aman untuk digunakan.
Langkah-langkah merawat daerah organ intim wanita agar tetap sehat
1.    Usahakan senantiasa menjaga daerah kewanitaan agar tetap kering atau tidak mudah lembab
2.    Membersihkan bagian luar kemaluan setelah buang air kecil atau air besar dengan menggunakan pembersih kewanitaan yang terbuat dari bahan alami. Caranya yaitu dengan mengusapkan dari arah depan ke belakang dan dibilas dengan air bersih.
3.    Disaat haid, wanita dianjurkan untuk segera mungkin mengganti pembalut dan celana dalam jika merasa tidak nyaman atau mulai terasa lembab terutama pada hari-hari yang banyak mengeluarkan darah (hari pertama sampai ketiga), ini dikarenakan darah bisa menjadi media yang sesuai untuk kuman berkembang biak.
4.    Hindari kebiasaan memasukan jari atau pancuran air ke dalam liang vagina dengan tujuan membersihkan bagian dalam vagina. Perlakuan ini akan membunuh bakteri baik dalam vagina sejenis bacteri lactobacilli.
5.    Hindari menggunakan sabun mandi pada alat kelamin karena dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi kulit atau gatal. Gunakan Pembersih Kewanitaan alami Indonesia yang mengandung pH balance 3.5 untuk menghindari iritasi.
6.    Pasangan suami istri dianjurkan untuk senantiasa membersihkan organ intim dengan air sebelum dan setelah hubungan seks untuk kebersihan yang optimal.
7.    Usahakan untuk dapat buang air kecil minimal setengah jam setelah hubungan seksual untunk mengurangi resiko jangkitan kuman pada kantung kemih (urinary tractinfection).
8.    Hindari memakai pakaian dalam sintetik terlalu ketat karena dapat menyebabkan kulit mudah lembab karena terganggunya peredaran udara pada kulit dan akhirnya dapat memudahkan perkembangan kuman atau jamur.
9.    Pakaian dalam atau underwear perlu ditukar minimal 2-3 kali sehari terutama pada hari-hari saat menstruasi dan keputihan. • Hindari perilaku seks bebas. • Atur pola makan dan gaya hidup yang sehat serta cukup istirahat dan olahraga yang teratur.


C.  Kategori  Sumber Ayu Sabun Daun Sirih
1.    Pengertian
Pengertian Sumber ayu daun sirih  merupakan antiseptic yang digunakan di daerah kewanitaan khususnya bila daerah kewanitaan terasa gatal, mengalami keputihan serta dalam masa menstruasi.
2.    Kategori sumber ayu sabun daun sirih
Sumber ayu daun sirih tergolong Obat bebas. Yaitu  obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Ini adalah obat yang aman dan bisa dibeli bebas di warung, mini market, supermarket maupun di apotek.
Meskipun disebut aman, obat bebas tetap tidak boleh dipergunakan sembarangan. Bagaimanapun, kata Dr.Handrawan Nadesul, obat bebas juga punya kandungan “racun” yang bisa berbahaya buat tubuh bila tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.
3.    Komposisi
Komposisi  sumber ayu sabun daun sirih :
Ekstrak Daun Sirih,( Piple Bettle Ekstract) 5% , Triclosan 0.15% , Sodium,Lauryl Sulfate, PEG-40 Hydrogenated, Castor Oil, Fragrance, Water
4.    Indikasi
Indikasi : Pembersih khusus daerah  kewanitaan.
5.    Kontra indikasi
Kontra Indikasi: Hentikan pemakaian bila terjadi iritasi
6.    Farmakokinetika dan Farmakodinamika
Sabun daun sirih dengan ekstrak daun sirih menjaga kebersihan daerah kewanitaan, memberikan kesegaran dan kenyamanan setelah penggunaannya, karena ini merupakan sabun cair yang langsung di gunakan di daerah kewanitaan.


Anatomi vagina
Copulin, senyawa bau badan wanita paling tajam, banyak terdapat dalam getah vagina. Jika diurai, senyawa copulin berisi tiga jenis asam, yakni asam asetat (acetic acid), asam propanoat (propanopic acid) dan asam butanoat (butanoic acid), selain hormon golongan androstenol.



Tahukah Anda bahwa dinding vagina dan cervix memproduksi sekresi yang berwarna putih atau sedikit kekuningan? Tahukah Anda bahwa sekresi ini normal dan merupakan pertanda sehatnya daerah sekitar vagina?
Rasa dan aroma sekresi vagina ini juga bervariasi, sesuai dengan siklus menstruasi dan tingkat rangsangan yang diterima seorang wanita. Dalam buku berjudul Our Sexuality karya Robert Crooks dan Carla Baur disebutkan, dalam suatu penelitian terhadap pria disimpulkan bau sekresi vagina selama ovulasi lebih menyenangkan daripada waktu lain dalam siklus bulanan.
Vagina merupakan bagian tubuh paling sensitive. Diperlukan pengetahuan yang cukup untuk merawatnya. Permasalah organ intim ini biasanya muncul akibat salah perawatan maupun hubungan seks dengan banyak pasangan.
Berkat kemajuan teknologi dan produk perawatan yang makin berkualitas, masalah organ ini mulai bisa diatasi. Munculnya keputihan, bau tak sedap, gatal-gatal menandakan pada organ yang tidak terawat.
Mencuci Vagina
Secara alami, organ ini memiliki pelindung yang disebut Ph derajat keasaman. Pada umumnya, pH derajat keasaman pada organ yang normal adalah 3,5 sampai 4,5 pH. pH ini bisa rusak dan menimbulkan berbagai keluhan, bila cara merawatnya salah. Dengan terlalu seringnya dibersihkan dengan sabun atau ramuan rempah pewangi, justru bisa merusak pH-nya. Untuk perawatan sehari-hari, usai buang air sebaiknya dibersihkan dengan air yang bersih dan dikeringkan dengan tisu.
Arah mencuci sebaiknya dilakukan bukan mengarah ke anus. Meskipun tampak sepele, namun bila Anda salah melakukannya, maka dapat merusak ph karena tangan yang dipergunakan membersihkan, menyentuh anus hingga ada kontaminasi yang justru mampu merusak ph vagina. Usai dicuci harus dikeringkan kalau basah dan lembab bisa merangsang tumbuhnya jamur.
Jamur dapat pula tumbuh dengan mudah bila rambut vagina terlalu panjang dan banyak. Rambut yang terlalu panjang dan banyak selain menutup bibir atas organ intim ini, juga akan tampak kurang sehat dan cantik, karena bisa sebagai sumber iritasi. Hindari rambut yang tumbuh terlalu lebat. Tapi jangan terlalu pelontos karena akan menghilangkan daya tarik sensualnya.
Iritasi pada vagina ditandai dengan kulit meradang, merah, terasa gatal, panas, perih dan bengkak. Biasanya disebabkan keringat berlebihan karena terlambat mandi, gesekan pakaian dalam yang ketat dan garukan kuku. Masalah ini juga bisa timbul karena terobsesi ingin selalu bersih hingga kebanyakan menggunakan sarana pembersih organ intim. Iritasi juga bisa terjadi bila mencuci organ intim dengan air panas, mempergunakan sabun yang berlebihan, atau pun menggunakan kompres larutan obat yang terlalu pekat.


Bila penyakit pada vagina tidak kunjung sembuh, segeralah cukur habis rambut kemaluan, olesi salep tipis dan merata. Jangan membasuh dengan air panas atau air di toilet umum. Bila ada luka, bilaslah dengan air aquades karena lebih steril dan tidak mencemari luka radang. Keringkan dengan tisu kering yang terjamin kebersihannya bila usai buang air. Jika terasa gatal, jangan digaruk. Akan lebih baik dikompres dengan air es.
7.    Efek samping obat
Bila digunakakan terus menerus dapat menimbulkan penyakit.
8.    Cara penggunaan
Tuangkan cairan sedikit ke telapak tangan dan usapkan ke bagian kewanitaan anda. Bilas dengan air bersih.
9.    Produksi
Diproduksi oleh  PT.UNZA VITALIS


BAB III
ASKEP

A.   Pengertian Vulvovaginitis
Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada vulva dan vagina. Vulvovaginal kandidiasis adalah nama yang sering diberikan untuk Candida albicans vagina infeksi berhubungan dengan dermatitis dari vulva (gatal ruam). 'Vaginal thrush', dan 'monilia' juga nama-nama untuk Candida albicans infeksi.
Candida albicans adalah jamur ragi biasanya bertanggung jawab atas vulva gatal dan pengosongan. Hal ini umumnya pelaku bahwa perempuan selalu merujuk pada setiap Vulvovaginal gatal sebagai "infeksi jamur," tapi perlu diketahui bahwa semua tidak selalu gatal disebabkan oleh ragi.

B. Etiologi
Vulvovaginitis dapat mempengaruhi perempuan dari segala usia dan sangat umum. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri, ragi, virus, dan parasit lain. Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan vulvovaginitis, seperti yang bisa ditemukan berbagai bahan kimia gelembung mandi, sabun, dan parfum. Faktor-faktor lingkungan seperti kebersihan yang buruk dan alergen juga dapat menyebabkan kondisi ini.
Candida albicans, yang menyebabkan infeksi jamur, adalah salah satu penyebab paling umum vulvovaginitis perempuan dari segala usia. Penggunaan antibiotic terus-menerus dapat menyebabkan infeksi jamur dengan membunuh antijamur normal bakteri yang hidup di vagina. Infeksi jamur kelamin biasanya menyebabkan gatal-gatal dan tebal, putih discharg vagina, dan gejala lain. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: ragi infeksi vagina
Penyebab lain adalah vulvovaginitis bakteri vaginosis, suatu pertumbuhan berlebih dari jenis bakteri tertentu dalam vagina. Bakteri vaginosis dapat menyebabkan tipis, warna abu-abu vagina dan bau amis.
Sebuah penyakit menular seksual yang disebut Trichomonas vaginitis infeksi adalah penyebab umum lain. Infeksi ini mengarah ke kelamin gatal, bau vagina, dan vagina yang berat, yang mungkin kuning-abu atau warna hijau.
Gelembung mandi, sabun, vagina kontrasepsi, feminin semprotan, dan parfum dapat menyebabkan iritasi ruam gatal di daerah genital, sedangkan nonabsorbent ketat atau pakaian kadang-kadang menyebabkan ruam panas.
Jengkel jaringan lebih rentan terhadap infeksi daripada jaringan normal, dan banyak organisme penyebab infeksi berkembang dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan gelap. Tidak hanya faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penyebab vulvovaginitis, mereka sering memperpanjang periode pemulihan.
Kurangnya estrogen pada wanita postmenopause dapat menyebabkan kekeringan vagina dan penipisan kulit vagina dan vulva, yang juga dapat menyebabkan atau memperburuk kelamin gatal dan terbakar.
Nonspesifik vulvovaginitis (di mana penyebab dapat diidentifikasi) dapat dilihat dalam semua kelompok usia, tetapi paling sering terjadi pada anak gadis sebelum pubertas. Setelah pubertas dimulai, vagina menjadi lebih asam, yang cenderung untuk membantu mencegah infeksi.
Vulvovaginitis nonspesifik dapat terjadi pada anak perempuan dengan genital miskin kebersihan dan ditandai oleh berbau busuk, coklat-hijau pelepasan dan iritasi labia dan vagina. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih dari suatu jenis bakteri yang biasanya ditemukan di dalam tinja. Bakteri ini kadang-kadang menyebar dari anus ke area vagina dengan mengusap dari belakang ke depan setelah menggunakan kamar mandi.
Pelecehan seksual harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan infeksi yang tidak biasa dan berulang episode dijelaskan vulvovaginitis. Neisseria gonorrhoeae, organisme yang menyebabkan gonore, menghasilkan gonokokal vulvovaginitis di gadis-gadis muda. Gonocorrhea vaginitis terkait dianggap sebagai penyakit menular seksual. Jika tes laboratorium mengkonfirmasi diagnosis ini, gadis-gadis muda harus dievaluasi untuk pelecehan seksual.

Sekitar 20% dari non-hamil wanita usia 15-55 pelabuhan Candida albicans dalam vagina. Sebagian besar tidak mempunyai gejala dan itu berbahaya bagi mereka. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans menyebabkan berat dadih putih seperti vagina, rasa panas di vagina dan vulva dan / atau ruam gatal di vulva dan kulit di sekitarnya.
Estrogen menyebabkan lapisan vagina untuk dewasa dan mengandung glikogen, sebuah substrat yang Candida albicans berkembang. Kurangnya estrogen pada wanita yang lebih muda dan lebih tua membuat kandidiasis Vulvovaginal jarang terjadi.
Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans terjadi paling sering dengan:
1.    Kehamilan
2.    Dosis tinggi pil KB kombinasi dan estrogen berbasis terapi penggantian hormon
3.    Sebuah rangkaian antibiotik spektrum luas seperti tetracycline atau amoxiclav
4.    Diabetes mellitus
5.    Anemia kekurangan zat besi
6.    Defisiensi imunologis misalnya, infeksi HIV
7.    Di atas kondisi kulit yang lain, sering psorias , Planus lumut atau lumut sclerosus.
8.    Penyakit lain

C.   Patofisiologi
Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.

D.  Manifestasi Klinis
Vulvovaginal gejala kandidiasis, yaitu, suatu pertumbuhan berlebih dari Candida albicans, meliputi:
1.    Gatal, nyeri dan / atau pembakaran ketidaknyamanan pada vagina dan vulva
2.    Berat dadih putih seperti vagina
3.    Ruam merah terang yang mempengaruhi bagian dalam dan luar dari vulva, kadang-kadang menyebar luas di pangkal paha untuk memasukkan daerah kemaluan, daerah inguinal dan paha.
Ini bisa berlangsung hanya beberapa jam atau bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau jarang, bulan.
Gejala mungkin kadang-kadang diperparah oleh hubungan seksual.

E. Komplikasi
1.    Ketidaknyamanan yang tidak hilang
2.    Infeksi kulit (dari garukan)
3.    Komplikasi karena penyebab kondisi (seperti gonore dan infeksi kandida)

F. Pencegahan
Untuk mencegah infeksi jamur, mengenakan pakaian katun agar udara dapat bersirkulasi. Walaupun sejumlah obat untuk mengobati infeksi jamur baru-baru ini akan tersedia over-the-counter, berhati-hati dalam membuat diagnosis diri terburu-buru.
Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis.
Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina).
Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi.

G. Perawatan
Kadang-kadang Candida albicans infeksi tetap ada meski terapi konvensional yang memadai. Pada beberapa wanita hal ini mungkin merupakan tanda kekurangan zat besi , diabetes melitus atau masalah imun, dan tes yang sesuai harus dilakukan.
Perempuan yang mengalami berulang Vulvovaginal Candida albicans melakukannya karena infeksi persisten, daripada infeksi ulang. Tujuan dari perawatan dalam situasi ini adalah untuk menghindari pertumbuhan berlebih dari kandida yang mengarah ke gejala, daripada harus mampu mencapai pemberantasan menyelesaikan atau menyembuhkan.
Ada beberapa bukti bahwa langkah-langkah berikut dapat membantu:
1.    Kapas atau uap air-wicking pakaian dalam dan pakaian longgar - menghindari stoking nilon.
2.    Perendaman dalam garam mandi. Hindari sabun - menggunakan pembersih non-sabun atau krim untuk mencuci berair.
3.    Terapkan hidrokortison krim untuk mengurangi gatal dan mengobati sekunder dermatitis mempengaruhi vulva.
4.    Perlakukan dengan krim antijamur sebelum setiap periode menstruasi dan sebelum terapi antibiotik untuk mencegah kambuh.
5.    Sebuah perjalanan panjang sebuah antijamur topikal agen kadang-kadang diperlukan (tapi hal ini mungkin sendiri menyebabkan dermatitis atau hasil dalam non-proliferasi candida albicans).
6.    Antijamur oral obat-obatan (itrakonazol atau flukonazol) dapat diambil secara teratur dan sebentar-sebentar (misalnya sekali sebulan). Dosis dan frekuensi yang cukup bervariasi, tergantung pada keparahan gejala. Oral agen antijamur mungkin tidak sesuai pada kehamilan. Mereka membutuhkan resep.
7.    Asam borat (boraks) 600mg sebagai supositoria pada malam hari dapat membantu untuk mengasamkan vagina dan mengurangi kehadiran khamir (albicans dan non-candida albicans).
Langkah-langkah berikut belum ditunjukkan untuk membantu.
Perawatan pasangan seksual - laki-laki mungkin mendapatkan singkat reaksi kulit pada penis, yang membersihkan cepat dengan krim antijamur. Memperlakukan laki-laki tidak mengurangi jumlah episode kandidiasis pada pasangan wanita mereka.
Khusus gula rendah, rendah ragi atau yoghurt tinggi diet, menempatkan yoghurt dalam vagina ,obat alami (dengan pengecualian asam borat)

H. Pengkajian
1. Identitas Klien
2. Keluhan Utama
a.    Nyeri
b.    Luka
c.    Perubahan fungsi seksual
3. Riwayat Penyakit
a. Sekarang :
Keluhan Klien menderita infeksi alat kelamin
b. Dahulu :
Riwayat keluarga mempunyai penyakit serupa, gangguan reproduksi
4. Pemeriksaan fisik
a.    Pemeriksaan Bagian Luar
Inspeksi
1)      Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien
2)      Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia dan eksoria
3)      Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul

b.    Pemeriksaan Bagian Dalam
1)   Inspeksi
Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan warnanya
2)   Palpasi
a)    Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula,
b)   Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas dan nyeri tekan
c)    Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas
d)   Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri tekan

I. Diagnosa
1.    Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi
2.    Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
3.    Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme
4.    Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

J. Intervensi
1. Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi
Kriteria hasil:
Memperhatikan bahwa nyeri ini ada mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan dan menurunkan nyeri dapat mengidentifikasi dan menurunan sumber-sumber nyeri.
Intervensi:
a.    Berikan pengurang rasa nyeri yang optimal
b.    Meluruskan kesalahan konsep pada keluarga
c.    Bicarakan mengenai ketakutan, marah dan rasa frustasi klien
d.   Berikan privasi selama prosedur tindakan


2. Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
Kriteria hasil :
Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual, mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Melaporkan keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual
Intervensi:        
a.    Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual, kepuasan, pengetahuan seksual, masalah seksual
b.    Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual
c.    Berikan dorongan bertanya tentang seksual atau fungsi seksual
3. Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme
Kriteria hasil:
Klien mampu memperlihatkan teknik cuci tangan yang benar, bebas dari proses infeksi nasokomial selama perawatan dan memperlihatkan pengetahuan tentang fakor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan pencegahan yang tepat.
Intervensi:
a.    Teknik antiseptik untuk membersihan alat genetalia
b.    Amati terhadap manefestasi kliniks infeksi
c.    Infomasikan kepada klien dan keluarga mengenai penyebab, resiko-resiko pada kekuatan penularan dari infeksi
d.   Terafi antimikroba sesuai order dokter
4. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Kriteria hasil:
Menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, mampu menunjukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan rasional dari tindakan dan pasien ikut serta dalam program pengobatan
Intervensi:
a.    Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
b.    Berikan informasi mengenai terafi obat-obatan, interaksi, efek samping dan pentingnya pada program
c.    Tinjau factor-faktor resiko individual dan bentuk penularan/tempat masuk infeksi
d.   Tinjau perlunya pribadi dan kebersihan lingkungan.

K. Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.

L. Evaluasi
1.    Tingkat kenyamanan pasien kembali seperti sebelum sakit
2.    Pola seksualitas dapat berfungsi secara normal
3.    Tidak terjadi inveksi
4.    Klien mengerti mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari penjelasan di atas kita dapat  mengidentifikasi penggunaan cairan antiseptic pada daerah kewanitaan, penggunaan antiseptic pada daerah kewanitaan terus menerus dapat menimbulkan penyakit di daerah kewanitaan tersebut. Mengetahui pemakaian antiseptic yang benar, mencegah masalah kewanitaan dengan penggunaan antiseptic dan dapat menerapkan  proses asuhan keperawatan yang berhubungan dengan penggunaan antiseptic pada penyakit vulvovaginitis.

B.  Saran
1.    Ada baiknya jangan menggunakan antiseptic di daearah kewanitaan terus menerus,
2.    Apabila daerah vagina gatal maka jangan digaruk dengan menggunakan kuku karena dapat menimbulkan iritasi atau luka,
3.    Gunakan antiseptic pada waktu-waktu tertentu misalnya pada waktu daerah vagina mengalami kegatalan, mengalami keputihan dan pada masa menstruasi.



DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2008. Sepuluh Mitos Daun Sirih. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://ad.okezone.com/microsite/unzavitalis/10mitos/. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 20:11 wita.

Anonym. 2009. Jangan Anggap Remeh Keputihan. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://www.dechacare.com/Jangan-Anggap-Remeh-Keputihan-I466.html. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 20:34 wita.

Anonym. 2010. Asuhan Keperawatan. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://snizty.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-dengan-klien.html. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 19:17.

Anonym. 2010. Khasiat dan Dampak Sabun Daun Sirih. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://allaboutlove-qdoeys.blogspot.com/2010/03/khasiat-dan-dampak-sabun-dan-daun-sirih.html. Diakses pada 20 Oktober pukul 20:21 wita.

Anonym. 2010. Mengatasi Keputihan. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://www.dechacare.com/Mengatasi-Keputihan-dan-Gangguan-Menstruasi-Secara-Alami-I425.html. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 20:39 wita.

Band, Rubby. 2010. Bahaya Keputihan Pada Wanita. Wikipedia. Jakarta. Dalam  http://penisku-besar.blogspot.com/2010/09/bahayanya-keputihan-pada-wanita.html. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 19:08 wita.

Bertram G. Katzung, MD,PHD. 1983. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 3. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

Doenges, Marillyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Mamin, Darwis. 2010. Jangan Sembarang Gunaka Antiseptik. Wikipedia. Jakarta. Dalam http://darwismamin.wordpress.com/keperawatan/jangan-sembarang-gunakan-antiseptik/. Diakses pada 20 Oktober 2010 pukul 21:50. Wita.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar